Rasa sayang yang tak terucap tapi rasanya kekal sebagai pengingat untuk terus menjadi sholehah.
Ya ada rasa yang mendalam hingga detik ini. rasa penyesalan yang menjadi titik balik setiap orang.
sedikit mengenang, waktu pelatihan tabarok di surabaya lalu. 3 orang teman sekamarku semuanya dari semarang. kami saling bertukar cerita kenapa bisa sampai ikut pelatihan ini? satu orang diantaranya adalah sosok ibu bagi kami karena usia beliau hampir seusia orangtua kami. ia pun bercerita kisah hijrah nya yang berawal dari meninggalnya anak pertama yang saat itu berusia 7 tahun karena sakit (salah penanganan, dokter salah diagnosis). ia ingin bersama anak nya di surga. karena anak yang belum baligh itu sudah dijamin surga untuknya. sedangkan saya (ibu itu) belum tentu masuk surga. itulah salah satu alasan kuat ibu itu ikut pelatihan tabarok. ingin bermanfaat (punya amalan yang bisa mengantarkannya ke surga kelak bertemu dengan ananda ajeng). ibu ini sudah punya rumah quran di rumahnya. ikut pelatihan ini untuk upgrade diri supaya pengelolaan rumah quran lebih maksimal.
satu orangnya adalah dokter. ia datang terlambat karena tidak dapat ijin ikut pelatihan tabarok dari atasan. dan satu orangnya lagi memiliki kisah yang sama dengan ku. yah...sama...titik balik kami adalah "bapak". bapaknya meninggal karena sakit gula. karena rasa yang dalam ia ada di jalan ini dan istiqomah. ia ikut pelatihan ini untuk bisa membuat rumah quran yang akan menjadi amal jariyah terus mengalir ke orangtua terutama "bapak".
karena Rasa yang Dalam itu, ada anak perempuan yang langsung menggunakan jilbab di saat pemakaman bapak dan menjadi titik baliknya. Hari yang datang dan ia belum siap menghadapinya. ada ia yang hanya mampu meneteskan air mata tapi tak mampu bersuara.
Yah, hari itu adalah hari yang tak pernah kusangka akan datang menghampiriku.
semuanya berjalan normal seperti biasanya. di pagi hari bapak mengantarku ke kampus dan mengantar adik2 ke sekolah disaat itu anty masih maba (semester 1 diunhas). seperti biasa saat sampai dikampus anty salim dan bapak berpesan "belajar yang baik nah". setelah itu bapak melanjutkan mengantar ammy ke sekolah. bapak singgah di rumah nenek dan mengantar tante (adiknya bapak) pergi arisan keluarga. sorenya anty menelpon ke rumah untuk dijemput dikampus. bapak seperti biasanya menjemputku dikampus. sampai dirumah kami bercerita seperti biasa. anty melaporkan semua aktivitas dikampus seharian itu hingga pukul 07.00 malam.
karena lelah, anty tertidur. jam 10.00 malam tetangga membangunkan, mengabarkan kalau "bapak telah meninggal". tak langsung berucap innalillah. ada rasa yg tak masuk di akal. hingga suara ambulans itu terdengar semakin dekat. dsaat itulah bibir ini mampu mengucap "innalillah".
saat anty naik ke kamar untuk istirahat, ternyata bapak merasa sakit perut, mama yang melihat keadaan berbeda dari biasa nya langsung minta tolong ke tetangga untuk minta diantar ke rs wahidin. sesampainya di rs tidak lama beliau menghembuskan nafas terakhirnya. yang melihat kejadian itu hanya mama dan adik uni. yang lain nya di rumah, tertidur dikamarnya masing2. bapak hanya numpang pergi di rs belum sempat diperiksa.
Ada air mata yg keluar tapi tak ada suara. ada jilbab yang terpasang dan mulai menggunakan nya dihari itu. Ada penyesalan yang mendalam yang tak tersampaikan.
yah penyesalan yang mendalam. sesaat sebelum naik ke kamar untuk tidur. anty sempat melawan ke bapak saat minta ijin ingin keluar beli sabun. bapak tidak mengijinkan "anak gadis tidak baik keluar malam" sapa nya. tapi anty menjawab "tidakji pak, dekatji, sebentar ji" kemudian melanjutkan langkah. tak disangka itu adalah percakaan terakhir kami.
semua telah terjadi, anty pun tidak bisa mengulang segalanya sesuai keinginan. semua telah menjadi takdirNya. 13 nov 2007 bapak meninggal, 14 nov 2007 pemakaman, 15 nov 2007 anty sudah masuk kampus menggunakan jilbab (walaupun jilbab pinjaman). berusaha memulai langkah untuk menjadi lebih baik. mengingat pesan bapak "belajar yang baik nah?" selalu tergiang ditelinga. inilah alasan mengapa anty bisa survive menyelesaikan kuliah s1 saat itu.
bersyukur punya banyak teman yang sholehah. anty mulai ikut tarbiyah untuk bisa tetap mengalirkan pahala ke bapak. semua hal yang baik semua dimulai dari rasa yang dalam itu hingga detik ini saat tulisan ini dibuat. rasa yang dalam yang tak pernah pudar oleh waktu. 13 nov 2019 lalu. anty sempatkan ke kuburan bapak saat pulang kantor. masih ada air mata yang menetes tapi tak mampu bersuara.
ada kata "maaf" yang tak sempat terucap, maafkan anty yang tidak peka. banyak hal yang tak kusadari. ada ia yang selalu menatapku lebih lama saat itu, ada ia yang bertanya "kenapa hanya mama yang dicari pas pulang kampus?" sapanya diruang tamu. ada perhatian luar biasa yang melarangku keluar malam saat itu. "maafkan" maafkan anty yang belum bisa bersikap dewasa saat itu.
Rasa yang Dalam
Rasa sayang yang tak terucap tapi rasanya kekal sebagai pengingat untuk terus menjadi sholehah
10 April 2020
Aspol Panaikang Makassar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar